suarajateng.co.id – Di usia senjanya yang ke-81 tahun, saat tubuh seharusnya beristirahat dengan tenang, Mbah Sukiman justru harus bertarung melawan rasa lapar yang mencekik. Viral melalui unggahan akun Facebook Mardawiah Gama, kisah pilu kakek renta ini menjadi tamparan keras bagi nurani kita semua.

Bayangkan, di tengah kenaikan harga pangan, Mbah Sukiman hanya memiliki anggaran makan tak lebih dari Rp3.000 per hari. Bagaimana mungkin? Hal ini karena keringatnya mengurus ternak tetangga hanya dihargai setahun sekali.

“Kalo sapinya laku dijual biasanya saya dapat 1 juta selama satu tahun merawat sapi, kadang juga dapat 500 ribu, Nang,” ungkap Mbah Sukiman dengan suara bergetar.

Jika dikalkulasikan, upah satu juta rupiah per tahun berarti Mbah hanya mengantongi sekitar Rp2.700 per hari. Uang sekecil itu bahkan tidak cukup untuk membeli sebungkus nasi putih yang layak. Tak heran jika setiap harinya, Mbah hanya mampu mengganjal perutnya dengan nasi putih yang disiram tetesan kecap.

Setiap pagi dan sore, pemandangan menyedihkan terlihat saat tubuh Mbah yang sudah sangat bungkuk harus memikul tumpukan rumput yang berat. Rasa nyeri yang menusuk punggung, pinggang, dan kakinya tak pernah ia hiraukan.

Bukan sekali dua kali Mbah tersungkur ke tanah. Beban rumput yang berat seringkali membuatnya hilang keseimbangan hingga terjatuh karena tersandung. Namun, Mbah tidak punya pilihan. Jika ia berhenti, maka piringnya akan kosong. Jika ia berhenti, ia tak akan bisa membeli kecap untuk makannya.

Selama 8 jam sehari, Mbah Sukiman bergelut dengan kotoran sapi dan tajamnya rumput kebun. Di usianya yang sudah berkepala delapan, ia masih harus menjadi tulang punggung bagi dirinya sendiri dengan imbalan yang sangat jauh dari kata layak.

Kisah Mbah Sukiman adalah pengingat bahwa di sekitar kita, masih ada jiwa-jiwa yang harus bekerja keras hingga titik darah penghabisan hanya untuk sekadar tidak mati kelaparan. Nasi kecap yang ia makan adalah simbol ketabahan sekaligus penderitaan yang tak terlukiskan.

dilangsir dari Facebook Mardawiah Gama

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *