Semarang, suarajateng.co.id – Ruang publik kembali dinodai oleh aksi barbar yang jauh dari peradaban. Sebuah video kekerasan yang melibatkan komplotan penagih utang atau Debt Collector (DC) di Pintu Tol Kaligawe, Semarang, pada 7 Februari 2026, menjadi bukti nyata bahwa premanisme masih mencoba mengangkangi hukum di negeri ini.
Video yang viral di TikTok tersebut bukan sekadar proses penagihan, melainkan sebuah pertunjukan anarkisme telanjang. Perampasan paksa unit kendaraan yang dibarengi dengan bogem mentah dan kekerasan fisik adalah tindakan kriminal murni yang tidak bisa ditoleransi dengan alasan apa pun.
Aksi brutal ini memicu gelombang kemarahan netizen yang menuntut keadilan. Masyarakat sudah muak dengan kelompok-kelompok yang merasa kebal hukum hanya karena memegang surat tugas penagihan.
Pelanggaran Hukum Telanjang: Tindakan perampasan di jalanan jelas melanggar Putusan Mahkamah Konstitusi terkait eksekusi jaminan fidusia.
Teror Psikologis: Aksi di tempat umum seperti gerbang tol menciptakan ketakutan masif dan mengganggu ketertiban masyarakat.
Bukan Penagih, Tapi Kriminal: Menggunakan kekerasan fisik mengubah status mereka dari “petugas penagih” menjadi kriminal jalanan.
”Jangan kasih ampun! Jika tindakan seperti ini dibiarkan, maka hukum hanya akan menjadi pajangan, sementara jalanan dikuasai oleh mereka yang paling kuat ototnya.
Publik kini menanti taji aparat penegak hukum. Tidak ada ruang bagi mediasi atau kata damai untuk aksi yang sudah mencederai rasa aman warga. Masyarakat mendesak pihak kepolisian untuk:
Memburu dan menangkap seluruh oknum yang terlibat dalam video tersebut tanpa sisa.
Menindak tegas perusahaan yang mempekerjakan jasa preman tersebut.
Memberikan hukuman maksimal untuk memberikan efek jera agar tidak ada lagi “koboi jalanan” yang beraksi di Semarang maupun wilayah Indonesia lainnya.
Siapa pun yang mencoba mengusik ketenangan publik dengan cara-cara premanisme harus bersiap menghadapi dinginnya sel penjara. Jangan biarkan jalan raya kita berubah menjadi hutan rimba tempat para preman berpesta di atas penderitaan rakyat.
(Tim redaksi)
