Blora, suarajateg.co.id – Publik Kabupaten Blora hari ini disuguhi tontonan yang memuakkan. Bukan soal prestasi, melainkan soal dugaan pengabaian nyawa anak sekolah demi mengejar keuntungan segelintir oknum. Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang seharusnya menjadi tumpuan gizi generasi masa depan, justru berubah menjadi ancaman kesehatan yang nyata.
Unggahan viral di media sosial, mulai dari akun Suara Jateng hingga Blora Updates, menjadi bukti betapa amburadulnya pengawasan di lapangan. Temuan ulat pada makanan di Mojowetan, jeruk busuk, hingga pengembalian massal roti kedaluwarsa oleh SMPN 5 Blora, SDN 2 Tutup, dan SPPG As-Sanusiyyah adalah tamparan keras bagi wajah birokrasi Blora.
Keuntungan Pribadi di Atas Nyawa Anak?
Komentar pedas netizen bukan sekadar bualan. Akun @ndobleh18 dan @Bambang_wijay menyuarakan kecurigaan yang sama: Apakah makanan busuk ini sengaja dibagikan demi menekan biaya dan meraup untung sebesar-besarnya?
Sangat tidak masuk akal jika makanan kedaluwarsa dan berulat bisa lolos sampai ke tangan siswa jika ada sistem pengawasan yang bekerja. Pertanyaannya sederhana: Ke mana para pejabat berwenang di Kabupaten Blora? Apakah mata mereka sudah tertutup oleh silau keuntungan proyek hingga tak mampu lagi membedakan mana makanan layak dan mana sampah?
Menanti Nyali Pemprov Jateng dan Pemkab Blora
Hingga saat ini, publik hanya melihat sikap “diam seribu bahasa” dari Pemerintah Kabupaten Blora. Tidak ada tindakan tegas, tidak ada sanksi hitam di atas putih bagi penyedia jasa yang nakal. Sikap ingah-ingih dan keragu-raguan ini justru memicu spekulasi liar di masyarakat—apakah ada main mata antara penguasa dan pengusaha?
”Apakah Blora harus menunggu jatuh korban keracunan massal lagi baru ada penanganan?
Blora Jangan Jadi Bahan Tertawaan Nasional
Jika Pemerintah Provinsi Jawa Tengah dan Pemkab Blora tidak segera mengambil tindakan “potong generasi” terhadap para vendor penyedia makanan busuk ini, jangan salahkan jika publik Indonesia menertawakan ketidakbecusan tata kelola di Blora.
Rakyat tidak butuh janji evaluasi yang bertele-tele. Rakyat butuh bukti nyata
Pemutusan kontrak segera bagi penyedia yang mengirimkan makanan tidak layak.
Audit transparan terhadap anggaran MBG di Blora.
Sanksi pidana jika terbukti ada unsur kesengajaan membahayakan nyawa anak-anak sekolah.
Jangan biarkan piring anak-anak kami diisi dengan sampah atas nama program pemerintah. Blora butuh pemimpin yang punya nyali, bukan yang hanya diam saat rakyatnya disuguhi buah ber-belatung dan roti busuk.
(Tim redaksi)
