Blora, suarajateng.co.id – Jagat publik Kabupaten Blora diguncang skandal perselingkuhan yang melibatkan oknum pejabat di lingkungan Dinas Kesehatan. Seorang dokter spesialis berinisial dr. SDA secara resmi melaporkan istrinya, dr. EHF, yang menjabat sebagai Kepala Puskesmas, atas dugaan hubungan gelap dengan sesama Aparatur Sipil Negara (ASN).
Ironisnya, pria yang menjadi selingkuhan sang istri diduga kuat adalah DK, yang juga memegang jabatan mentereng sebagai Kepala Puskesmas di wilayah Kabupaten Blora.
Laporan ini bukan sekadar isapan jempol. Dalam surat tertulis tertanggal Juli 2025 yang ditujukan langsung kepada Bupati Blora, Kepala Dinas Kesehatan, dan Kepala BKPSDM, dr. SDA membeberkan rentetan bukti yang memperkuat dugaan pengkhianatan tersebut, dikutip dari https://korandiva.co
Tak main-main, dr. SDA melampirkan bukti-bukti digital yang sangat spesifik, mulai dari:
Tangkapan layar percakapan mesra (chat).
Pesan langsung (DM) Instagram.
Bukti reservasi hotel (check-in) di Yogyakarta pada tanggal 2-3 Juli 2025.
“Istri saya telah melakukan tindak perselingkuhan yang saya ketahui sejak bulan Januari 2025 sampai sekarang dengan laki-laki tersebut yang juga berstatus sebagai ASN Kabupaten Blora,” tegas dr. SDA dalam keterangannya.
Tak puas hanya melapor ke atasan secara administratif, dr. SDA mengambil langkah hukum yang lebih agresif. Ia resmi menyeret kasus ini ke Polresta Yogyakarta untuk mendalami bukti persetubuhan atau perzinaan melalui rekaman menginap di hotel.
Ia menuntut keadilan dan ketegasan dari pimpinan daerah. Menurutnya, perilaku kedua Kepala Puskesmas ini telah merusak marwah ASN.
“Perbuatan mereka tidak hanya mengkhianati keluarga, tetapi juga mencoreng citra ASN di wilayah Kabupaten Blora,” tambahnya dengan nada geram. Merespons laporan “panas” tersebut, Kepala BKPSDM Blora, Heru Eko Wiyono, mengonfirmasi bahwa pihaknya telah menerima aduan tersebut. Langkah hukum disiplin segera diambil dengan membentuk tim lintas instansi.
“Timnya nanti ada yang dari BKPSDM, Inspektorat, Bagian Hukum, Dinas Kesehatan dan lainnya,” ujar Heru.
Publik kini menunggu keberanian Pemerintah Kabupaten Blora dalam menindak tegas oknum pejabat yang seharusnya menjadi teladan masyarakat, namun justru terjebak dalam pusaran skandal asmara terlarang.
(Tim redaksi)
