Blora, suarajateng.co.id // 20 Februari 2026 – Memasuki bulan suci Ramadan, jeritan masyarakat kecil di Kabupaten Blora mulai terdengar nyaring. Kelangkaan gas LPG 3 kg (gas melon) yang terjadi belakangan ini telah mencapai titik yang mengkhawatirkan, memicu kecemasan akan terjadinya krisis energi dapur saat Hari Raya Idul Fitri mendatang.
Kondisi di lapangan menunjukkan ketidakpastian harga yang mencekik warga. Di beberapa titik di Blora, harga gas melon sudah menyentuh angka Rp23.000 hingga Rp25.000 per tabung. Angka ini jauh melampaui Harga Eceran Tertinggi (HET) yang ditetapkan pemerintah, namun warga tidak memiliki pilihan lain selain membeli demi kebutuhan pokok.
“Sekarang saja mencari barangnya sudah susah payah, harganya pun sudah naik. Kami takut nanti pas mau Lebaran, gas malah hilang total atau harganya jadi tidak masuk akal,” ungkap seorang warga Blora dengan nada kecewa.
Kelangkaan ini memicu dugaan adanya praktik curang oleh oknum pengecer maupun agen yang sengaja menahan stok untuk mencari keuntungan pribadi di tengah kesulitan masyarakat. Warga meminta pemerintah daerah dan Pertamina tidak menutup mata atas fenomena ini.
Audit Distribusi: Meminta Dinas Perdagangan melakukan sidak mendadak ke gudang-gudang agen dan pangkalan.
Sanksi Tegas: Mencabut izin usaha bagi oknum yang terbukti menjual di atas HET secara tidak wajar atau melakukan penimbunan.
Operasi Pasar: Segera dilakukan distribusi tambahan (extra dropping) gas LPG 3 kg ke desa-desa agar harga kembali stabil.
Jika tidak segera diatasi, dikhawatirkan kelangkaan ini akan mencapai puncaknya pada perayaan Idul Fitri 2026. Masyarakat kecil yang paling terdampak menuntut adanya jaminan ketersediaan stok agar momentum hari raya tidak terganggu oleh urusan dapur yang macet.
“Jangan biarkan rakyat kecil menjadi korban permainan pasar. Pemerintah harus hadir menjamin gas melon tersedia dan harganya tetap terjangkau sesuai aturan.
(Tim redaksi)
