Blora, suarajateng.co.id – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang seharusnya menjadi angin segar bagi kesehatan balita di Desa karangtalun kecamatan banjarejo, Kabupaten Blora, kini berada di bawah sorotan tajam. Alih-alih memberikan asupan gizi yang layak, implementasi di lapangan justru memicu kecurigaan publik terkait adanya indikasi modus korupsi di balik paket makanan yang jauh dari kata ideal.

Berdasarkan informasi yang diterima, paket yang diberikan kepada balita hanya berisi:

2 butir telur

2 buah apel

1 kotak susu kemasan

Roti isi ubi ungu

Ironisnya, paket tersebut diklaim sebagai jatah untuk 3 hari. Hal ini memicu reaksi keras dari masyarakat. Bagaimana mungkin paket seadanya tersebut mampu memenuhi standar gizi balita selama tiga hari berturut-turut.

Salah satu tokoh masyarakat setempat, Dr, menaruh perhatian serius terhadap kualitas makanan yang diberikan. Dalam temuannya, ia menyoroti isi roti yang bukan merupakan selai berkualitas, melainkan hanya ubi ungu.

Saat dikonfirmasi oleh Dr, pihak MBG Mojowetan kecamatan banjarejo Blora,  selaku penyedia jasa memberikan jawaban yang sangat tidak profesional dan terkesan mengelak. Pihak MBG mengakui adanya ketidaksesuaian menu tersebut, namun berdalih bahwa hal itu terjadi karena “kesalahan waktu perhitungan bahan baku.”

Alasan “salah hitung” yang dilontarkan pihak SPPG dinilai tidak masuk akal dalam program skala besar yang menyangkut kesehatan anak-anak. Publik menduga ini hanyalah upaya pembenaran atas minimnya realisasi anggaran dibanding fisik makanan yang diterima masyarakat.

“Memang menu yang kami sajikan, sebelumnya saya mohon maaf yang sebesar-besarnya, untuk menu tersebut karena kesalahan waktu perhitungan bahan baku,” ujar pihak MBG saat dikonfirmasi Dr

Permintaan maaf ini tidak menghapus fakta bahwa ada hak balita yang terabaikan. Jika untuk program sepenting ini pihak penyedia bisa “salah hitung” hingga berhari-hari, maka kredibilitas dan transparansi penggunaan anggaran program MBG di Banjarejo patut dipertanyakan secara hukum.

Masyarakat menuntut adanya audit transparan terhadap MBG Mojowetan. Jangan sampai program nasional yang mulia ini dijadikan ajang memperkaya diri oleh oknum-oknum tertentu dengan memotong kualitas gizi anak-anak bangsa. Kesalahan perhitungan bukan lagi sekadar keteledoran teknis, melainkan sinyal kuat adanya manajemen yang bobrok atau bahkan kesengajaan untuk mencari keuntungan ilegal.

(Tim Redaksi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *